Persatuan Syiar Islam PT Semen Tonasa menggelar kegiatan keagamaan yakni pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang dipusatkan dihalaman Kantor Pusat PT Semen Tonasa, Rabu, 10 April 2024.

Penyelenggaraan shalat Idul Fitri ini, dihadiri oleh Direktur Utama PT Semen Tonasa Asruddin, Direktur Keuangan Anis serta Jajaran Manajemen PT Semen Tonasa berbaur bersama jemaah yang datang berbondong-bondong menyemarakkan kegiatan pelaksanaan shalat idul fitri.

Bertindak sebagai Imam Ust Muhammad Syukron, Spd, sementara Khatib Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu, M.Si, Guru Besar Ekologi Pertanian & Direktur Pascasarjana Universitas Islam Makassar, Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama Wilayah Propinsi Sulawesi Selatan dan Anggota Komosi Kajian dan Penelitian MUI Sulawesi Selatan.

Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu, M.Si dalam khutbah yang mengangkat tema Refleksi Ramadhan Sebagai Bulan Pensucian dan Peningkatan Kualitas Diri mengatakan bahwa, Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan pensucian dan peningkatan kualitas diri, ibarat tamu agung yang datang satu kali satu tahun, telah meninggalkan kita.

Merasakan kepergian nya pasti berbeda-beda tergantung pada sikap kita dalam menyambut dan memanfaatkan/ menemani tamu agung tersebut selama satu bulan, ketika kita sambut dengan biasa-biasa saja, kepergiannya pun biasa-biasa saja, boleh jadi dia pergi tanpa kesan kita tidak merasakan apa-apa, ungkapnya.

Bagi yang menyambutnya dengan luar biasa akan merasa sedih akan kepergiannya, namun jangan larut dengan kesedihan, bulannya telah pergi, akan tetapi amaliyah-amaliyahnya masih tetap hadir pada semua bulan, membuka diri untuk diamalkan, masih ada puasa syawal, puasa daud, puasa senin-kamis, qiyaamullail/tahajjud, berinteraksi dengan al qur’an, dzikir, infak sedekah, untuk menjaga mempertahankan bahkan, meningkatkan predikat ketaqwaan, kemuliaan dan kesucian jiwa yang telah kita raih.

Yang pasti, sepanjang bumi dan langit ini masih ada, akan datang tamu agung baru setiap tahun, akan datang tahun depan. Yang tidak pasti dan tidak ada jaminan adalah apakah kita masih diberikan kesempatan untuk menyambutnya. Untuk itu pertahankan ketaqwaan, kemuliaan , fitra kesucian yang di raih di bulan suci ramadhan.

Genggam dan mohon kehadirannya untuk menata hidup, dan kehidupan, melaksanakan tugas kehambaan dan kekhalifaan sampai batas kontrak waktu yang tidak bisa mundur dan tidak bisa maju (laa yastakhiruuna saatan walaa yastakdimuuna), dengan harapan masih mendapat kesempatan untuk menyambut tamu agung bulan suci ramadhan 1445 Hijriah, urai Guru Besar Ekologi Pertanian & Direktur Pascasarjana Universitas Islam Makassar ini.